Bali,20 Maret 2008, In Memorian

Pesona keagungan pagi,tersandar diriku menikmati udara sejuk yangg kian berhembus,ku langkahkan kaki dan ku pijakkan unt pertama kalinya di pulau impian yg bernilai berjuta makna bagi insan yg mengaguminya.Sesejuk embun pagi,hatiku kini merasa berseri saat ku ayunkan langkah ini tertuju pada sebuah pantai yg begitu indah dan mempesona.Kelembutan pasir yg sandar ditepi pantai,serta hempasan ombak yg silih berganti,menambah terkagumnya aku akan pulau sang Dewata.

Disela nafasku yg mulai lelah,ku duduk sembari memandang luasnya lautan yg tiada batas,entah tiba-tiba hatiku teringat pada sebuah nama insan yg menjadi pautan hatiku selama ini.Kini aku hanya mampu melamun menatapi gemercik ombak dan cahaya nan merah dipucuk lautan,terlantun dalam hatiku selalu,wajahmu begitu mengusik dlm jiwa ini.Seandainya hadirmu disisi saat ini,mungkin kini aku tak akan kesepian,tak ku sadari,air mata kini menitis di pipiku.Detik demi detik yg aku lalui,seakan tak satupum nafas yg berarti.

Indahnya mentari menyapa hari ditengah tangisan batin yg mengandap disanubari,sesaat seberkas cahaya terang menyinari hidupku,selembut pasir pantai,ingin ku peluk bayanganmu walaupun hanya sekali,namun semua tiada pasti,ruang tlah memisahkan diri ini,sandaran hati mengapakah engkau tak disini saat kubalut sepi menikmati surga dipulau ini?

Kesempurnaan pulau Dewata yg terlintas dipelupuk mata,tapi mengapa hatiku hampa tanpa hadirmu dlm jiwa,engkau sungguh menyusup mimpi,menyelubung,mencekam batin yg kian menyiksa.Satu kesan abadi yg tak pernah terjadi dlm hidup ini,kemanakah harus ku bawa luka saat rasa cinta masih terbesit didlm dada.

Teriring hari yg semakin bercahaya,ku memaksa diri unt bercengkrama dgn alam dan mencoba tersenyum meskipun bayangan masih melekat ditaman impian.Dihatiku selalu terpaut namamu,entah rasa ini semakin mendalam saat diriku risau akan kehilangan hadirmu disisiku.Sang surya telah menebarkan sinarnya dlm kehidupan,namun sayang cahayanya tiada mampu melenyapkan kegelisahanku akan dirinya.Kehangatan ia pancarkan tiada sangup menggantikan cahaya permatamu,engkau sungguh membuat tubuhku luluh,tiada berdaya seakan tak ada arti.

Disini dijantung pulau ini,ingin kulabuhkan harapan demi ikatan istana kedamaian yg merengkuh dijendela kabut jiwa.Ingin ku sandarkan angan agar keyakinan menghantar diriku kepada kelembutan embun sbg penyejuk lara,satu pengharapan ini akan selalu terpatri sampai diri merajut mimpi walau semua kian tak pasti.

Rasa gelisah dlm setiap langkah tak pernah menyerah,ingin ku sulam kerinduan ditengah batin.Dalam kalbuku tersentak goresan,ingin ku peluk satu angan senyum yg tersudut jauh di pelupuk cahaya mata.

Sang cahaya kini pergi meninggalkan kelamnya hari dan semua tergantikan dengan datangnya senja.Semilir angin menghempas menyapa lembut wajahku,tiada satupun teman atau sandaran yg menghibur hati,gemersik tiupan di senja menambah laraku saat ku bertepi disudut merah yg kian tenggelam.Sunyinya hariku tanpamu merapuhkan mimpiku akan seberkas cahaya terang yg menyinari hidupku.

Air mata menemani senjaku,terangkai kerinduan meluluhkan cadas permata maghligai,dlm lamunan aku menunggu,dlm pelukku kini tertuju.Terbesit falsafah satu pelangi sesaat lenyapkan kerisauan yg menyelubung hidup ini,namun entah luka kembali menghampiri ketika sang bintang berkelip,ku merenung tentang jalan hidup yg ku tempuh,ku hanya pasrah menikmati sakit,bayanganmulah yg membuatku mampu mengaramkan sesalku akan luka yg kian berdarah.

Angin dingin menyusup malamku saat ku tatap cahaya dan teriring doa unt selalu tergenggam semoga luka ini terlepas pergi bersama angin malam dan tetesan embun agar terobati bunga sakura yg pernah pupus.

Kupejamkan mataku bersama pulau persinggahan,malamku,memori ini akan abadi dan tak kan pernah terganti walau semua tlah kembali.Mimpi bawalah sepi saat gelap menghampiri dan tinggalkanlah saat pagi menyejukkan hati,ingin ku sambut hari agar semua menjadi berarti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar